Tulisan

SELIBAT: SARANA DAN KEBAHAGIAAN


Pengantar

Banyak orang berpikiran lain tentang selibater. Ada yang menyatakan bahwa mereka yang hidup selibat tidak normal lagi. Ada pula perkataan lain yakni mereka sudah mati dalam hal duniawi. Pernyataan-pernyataan mereka tidak boleh dipersalahkan begitu saja, karena mereka kurang memahami makna sebenarnya di balik hidup selibat itu. Apalagi, dalam abad terakhir ini seks terlalu diagung-agungkan, sementara para selibater sendiri kelihatan enggan menerangkan kepada publik makna dan kekayaan dari hidup selibatnya. Oleh karena itu, orang mudah salah mengerti akan kaul selibat itu

Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud menyampaikan pengertian selibat secara lengkap, sebab bagaimana pun, hidup selibat yang dijanjikan para selibater akan selalu menimbulkan pertanyaan karena dia merupakan pilihan bebas yang sama sekali tidak irasional. Saya akan mengatakan beberapa hal tentangnya berdasarkan penuturan mereka yang menghidupinya dan pengalamanku kurang lebih 5 tahun, walaupun sebenarnya saya tidak pernah mengkaulkannya sebagai janji sah di hadapan Tuhan. Bagi saya, ada suatu pemikiran ke depan bahwa hidup selibat yang dikaulkan para selibater merupakan suatu sarana yang mengandung resiko tetapi sekaligus mendatangkan kebahagiaan.

Selibat Sebagai Sarana

Saya tidak pernah mengatakan kepada diriku sendiri bahwa “sayaingin menjadi seorang selibater” ketika berniat menjadi imam. Saya hanya mengatakan bahwa ingin menjadi imam, meskipun sebenarnya tuntutan dari pilihan itu adalah harus menghidupi selibat. Persepsiku tentang cara demikian merupakan sarana mempersembahkan diri secara total demi melayani Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, hidup selibat yang adalah penyerahan diri secara totalitas harus dihidupi, dikembangkan dan dipelihara sebagai suatu jalan untuk tujuan tertentu, yakni pelayanan cinta kasih.

Ada fakta yang muncul yakni banyak orang lupa bahwa hidup selibat semata-mata sarana atau jalan. Mereka justru berhenti pada beberapa pandangan naif, misalnya: seks itu buruk, hidup selibat lebih mulia dan berharga daripada perkawinan, atau selibat diredusikan sebagai kontrol diri.

John Holcomb pernah menulis dalam bukunya, “kita harus terjun ke dalam kehidupan supaya menghasilkan sesuatu”. Bertitik tolak dari pernyataan itu, saya mempunyai pemikiran ke depan bahwa hidup selibat seharusnya dilihat sebagai jalan untuk terlibat dalam perjuangan memperbaiki dunia, sarana untuk membuka diri supaya diperalat Allah untuk membangun dunia ini, dan juga cara untuk mencapai kekudusan. Jika selibat hanya dipandang sebagai tujuan hidup maka ada bahaya bahwa mereka yang menghidupinya hanya menjadi penonton kehidupan atau menjadi menara gading yang tidak mempunyai faedah apapun untuk kehidupan umat manusia.

Selibat dapat mendatangkan kebahagian

Selibat mendatangkan banyak resiko. Fenomena ini terletak pada fakta bahwa seksualitas manusia sungguh penting dan baik. Itu harus dijaga agar tidak hanya bahan mainan yang tidak berdaya guna bagi kehidupan manusia. Salah satu perwujudan seksualitas adalah perkawinan. Itu mengekspresikan cinta lewat hubungan genital, dan tujuannya untuk memperbanyak keturunan. Seluruh aktivitas ini bukan hanya baik dan natural; tetapi mereka sungguh integral dalam perkembangan kepribadian manusia. Oleh karena itu, pelepasan diri dari aktivitas-aktivitas dan penganut paham naif tentang selibat akan melahirkan dua ekstrem yang sama berbahaya yakni:  relasi eksklusif dengan lawan jenis dan cenderung kasar terhadap lawan jenisnya.

Selain itu, hidup selibat mengandung banyak tantangan karena ia menuntut pengorbanan-pengorbanan spesifik dan konkret sepanjang hidup. Opini tentang ini merupakan hasil sharing pengalaman seorang suster. Dia mengatakan ada pengorbanan personal yang dia rasakan setiap waktu, antara lain: keinginan memiliki dan menggendong bayi sendiri, harus  tidur seorang diri setiap waktunya, cemburu melihat kemesraan muda-mudi dan pengantin baru, dan lain lain. Pengorbanan-pengorbanan ini memang sangat riil, dan sungguh beresiko karena mereka menggoda sepanjang hidup selibater dan akhirnya, membujuk mereka untuk berbalik dan menyesali komitmen yang telah dinyatakannya.

Akan tetapi, apabila seorang selibater menghadapi segala pengorbanan tersebut dengan jujur, terbuka, dan dalam penyerahan diri kepada Tuhan, maka pengorbanan tersebut menjadi pendorong bagi para selibater untuk menghidupi selibat mereka dengan lebih rendah hati dan bersemangat. Hal ini, akan teraktualisasi dalam kehidupan doa, kebebasan, dan relasi setiap harinya.

Saya percaya bahwa hidup selibat merupakan anugerah dari Tuhan, bukan hasil dari kepintaran manusia. Sadar akan hal itu, maka saya membangun komitmen di dalam hidupku agar mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan dan memohonkan rahmatNya demi menopang dan memelihara anugerah selibat yang telah mengakar dalam diri saya. Doa menjadi sarana yang mempertemukan saya dengan Tuhan. Akhirnya, relasi dengan Tuhan itu menjadi kebutuhan mutlak agar hidup selibat yang sudah saya jalani selama kurang lebih lima tahun mendatangkan kebahagiaan.

Hal bahagia lainnya adalah kebebasan dalam berkarya. Poncelet Mateus secara halus berkata kepada suster Helen bahwa dia telah mengambil keputusan yang keliru karena tidak menikah, tetapi suster Helen menjawabnya dengan tangkas bahwa jika ia ,e,punyai suami dan anak, dia mungkin tidak dapat merawat dan menemani Poncelet dalam penderitaannya. Kutipan ini saya ambil dari film Dead Man Walking. Hal yang mau saya sampaikan dari reflesksi tentang film ini adalah: jika kaul selibat dihayati dengan baik maka akan menolong para selibater dalam karyanya, bahkan akan memperluas jangkauan jelajah pelayanan mereka. Pandangan orang tentang “keintiman” kaum selibater yang “diresevir hanya untuk Tuhan”  akan mengubah paradigma yang terjadi menjadi man for all.

Penutup

hidup selibat yang semarak dibicarakan akhir-akhir ini, tidak akan pernah dapat dianalisa atau diterangkan secara lengkap dan adekwat, sebab hidup selibat secara esensial merupakan suatu pengalaman religius yang berakar dalam misteri tak terduga dari cinta Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, setiap usaha untuk mengungkapkannya dalam kata-kata akan jatuh pada kata-kata sederhana. Maka jelaslah bahwa selibat adalah suatu yang menggembirakan. Selibat adalah kebahagiaan.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s