Tulisan

PILIHAN DASAR (OPTIO FUNDAMENTAL)

Pendahuluan

Kebanyakan orang mempunyai pandangan yang berbeda perihal suatu kenyataan tindakan manusia. Misalnya saja, ketika seorang pengurus Gereja (laki-laki) berjalan berpegangan tangan dengan seorang pemudi katolik. orang-orang sekitar yang melihat peristiwa itu tidak membuat komentar risih perihal tindakan pengurus Gereja itu. mereka akan menganggap tindakan seperti itu biasa-biasa saja. Tetapi ketika seorang klerus berjalan bergandengan tangan dengan seorang pemudi katolik, orang-orang sekitar akan merasa risih melihat perbuatan si klerus itu. Ternyata, suatu realitas dipandang berbeda oleh masyarakat sekitar. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa demikian?

Penulis mencoba menganalisis duduk masalah ini, ternyata pilihan dasar yang dibuat sesorang atas hidupnya menjadi ukuran yang diapakai untuk mengukur tindakannya. Pilihan dasar itu menunjukkan sebuah komitmen atasnya.

Dalam paper ini, penulis akan mencoba memaparkan pengertian pilihan dasar itu, bagaimana proses terbentuknya, bagaimana dibina, dan apa yang mau dicapainya dengan itu.

Pengertian Pilihan Dasar

Pilihan dasar adalah pilihan yang muncul dari kedalaman kepribadian yang secara significant mengarahkan tujuan kita atas optio itu. Pilihan hidup itu adalah suatu komitmen personal  yang harus dipertanggungjawabkan. Komitmen itu pribadi adalah kualitas batin berupa keyakinan yang tumbuh dari imajinasi Roh Allah, kemudian menjadi sikap hati yang dipilih secara sadar dan bebas. Itu adalah wajah karakter yang harus diperkembangkan dalam kesempatan keseharian menjadi suatu daya persuasif internal.

Menurut Bernard Haring, pilihan dasar merupakan realisasi dari kebebasan dasar. Dalam konteks ini, optio fundamentalis sepertinya akan dapat dipahami bila ada kesatuan tak terbagi dengan pengetahuan dasar tentang hal-hal baik.[1] Seterusnya kebebasan dasar itu juga saling berelasi dengan pengetahuan dasar. Akhirnya dalam relasi itu, seorang pribadi akan mencapai identitasnya dan menentukan komitmennya yang total terhadap kebaikan dan Allah sebagai sumber kebaikan.[2] Secara singkat atas pengertian ini, penulis dapat mengatakan bahwa pilihan itu dibuat secara bebas.

Manusia yang terlibat penuh atas optio itu mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Ada pilihan menjadi klerus, awam dan ada juga menjadi Vorhanger. Semua pilihan itu membutuhkan tanggung jawab. Menurut Thomas Aquinas, pada dasarnya semua pilihan itu berakar pada dua jenis optio fundamentalis, yakni mencintai Tuhan atau menciptai ciptaan-Nya.[3] Mencintai Tuhan berarti tunduk dan melakukan kebaikan-kebaikan alias kualitas batin dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Perihal mencintai Tuhan bukan sekedar untuk diri sendiri  tetapi juga memproyeksikannya terhadap ciptaanNya. Akhirnya menurut Richard, mencintai Tuhan adalah mendedikasikan diri pada-Nya.[4]

Pembentukan Optio Fundamental

Pilihan dasar sudah muncul sejak pengalaman masa kanak-kanak dan hal itu tidak terjadi secara spontan tetapi melalui proses yang sering kali implisit.[5] Pembentukan pilihan dasar adalah pembentukan komitmen. Pembinaan pilihan dasar adalah pembinaan komitmen atas optio itu. Pembinaan itu umumnya lewat lewat latihan atau pelaksanaan komitmen yang berulangkali sebagai konsekwensi  atas pilihan itu hingga menjadi kebiasaan yang berakar dalam diri. Pengalaman keseharian yang lebih formatif ialah tantangan atau cobaan yang bertentangan dengan konsekwensi dari pilihan dasar itu harus dilawan. Johan Wolf Gang mengatakan ”talents are best mertured in solitude comitment is the best formed inthe stor my bellows of the word.

Pilihan dasar, secara mendalam berakar dalam relasi sehari-hari sebagai mahluk sosial. Maka, tujuan dasar kita sebagai pribadi yang mempunyai pilihan dasar harus dilaksanakan dengan komitmen kita terhadapa keutuhan diri dengan kepekaan terhadap dunia sekitar. Memanglah optio bisa melemah jika pilihan partikular kita tidak sesuai dengan tuntutan pilihan itu. pilihan dasar seseorang menjadi Klerus dan calon klerus harus ditunjukkan dengan pilihan partikular sesuai dengan tuntutan dari hal itu. singkatnya penulis boleh mengatakan semakin baik dan merosoknya suatu tindakan ditentukan oleh pilihan partikular dari pilihan dasar itu tanpa terlepas dari optio itu.

Optio Fundamental sebagai Habitus

Pilihan dasar yang kita buat akan bertumbuh subur dan berkembang dengan baik apabila setiap orang menyiraminya dengan pilihan partikular yang sesuai dengan komitmen dan tuntutan pilihan dasar itu. Pembentukan pilihan semacam itu bukanlah gampang tetapi melalui proses yang bertahap. Pilihan dasar semacam ini akan menjadi habitus seseorang dan menjadi keutuhan totalitas diri seseorang dengan piliohannya. Orang akan terbiasa dengan membuat pilihan dasar dan menjadi sesuatu yang dimiliki sehingga memudahkan setiap orang untuk mengarahkan hidupnya berkat adanya discerment.

Penutup

Kegiatan hidup seseorang ditentukan oleh pilihan dasarnya. Pilihan dasar direalisasikan lewat tindakan. Tindakan itu adalah tindakan-tindakan lahir dan batin. Tindakan itu harus diukur dengan opsinya. Tentulah kehendak semua orang adalah mencapai kebahagiaan dari Allah. Maka tindakan yang tertuju ke situ harus dibarengi dengan pilihan-pilihan partikular yang tidak bertentangan dengan pilihan dasar senacam itu. akhirnya hidup moral seseorang ditentukan oleh integritas personal dan kematangan psikologisnya.

Daftar Pustaka

Chang, William. Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Haring, Bernard. Free and faitfull in Christ, Jilid I. (tanpa kota penerbit): society of St.           Paul, 1979.

M. Richard. Reason Informmed By Faith, (New York: Pulist Press,1989)

Nadeak, Largus. Moral Fundamental I, Pematangsiantar STFT St. Yohanes (tanpa tahun)


[1] Bernard Haring, Free and Faithfull in Christ, jilid I ((tanpa kota penerbit) : Society of St. Paul,1979), hlm. 182-183.

[2]Richard M, Reason Informmed By Faith, (New York: Pulist Press,1989), hlm. 80.

[3] Dr. William Chang, OFMCap, Pengantar Teologi Moral. (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 74.

[4] Richard M, Reason Informmed By Faith, (New York: Pulist Press,1989), hlm. 78.

[5] Largus Nadeak, Moral Fundamental I, Pematangsiantar STFT St. Yohanes (tanpa tahun), hlm. 24.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s